October 2, 2026

Apa Ciri Website dengan User Experience (UX) yang Buruk?

banner blog - Ciri Website dengan User Experience yang Buruk

Website yang terlihat kurang menarik belum tentu memiliki user experience buruk. Sebaliknya, website dengan tampilan yang modern dan menarik juga belum tentu mudah digunakan. UX lebih berkaitan dengan pengalaman pengunjung saat berinteraksi dengan website, seperti menemukan menu, memahami tombol, mengisi form, atau mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Masalah UX sering tidak disadari pemilik website karena mereka sudah terbiasa dengan tampilan dan alur websitenya sendiri. Padahal, navigasi yang membingungkan, tombol yang tidak jelas, form terlalu panjang, atau halaman yang lambat dapat membuat pengunjung kesulitan dan meninggalkan website.

Karena itu, website perlu dievaluasi dari sudut pandang pengguna, bukan hanya dari tampilannya. Artikel ini membahas 10 ciri website dengan UX yang buruk dan cara memperbaikinya, mulai dari navigasi, tombol, form, pesan error, hingga konsistensi tampilan.

Ringkasan Cepat

  • User experience yang buruk dapat terlihat dari pengunjung yang kesulitan menggunakan website, seperti bingung mencari menu, menemukan tombol, atau menyelesaikan transaksi.
  • Masalah UX biasanya bukan hanya satu masalah besar, tetapi kumpulan friksi kecil yang membuat website terasa sulit digunakan.
  • 10 usability heuristics dari Jakob Nielsen dapat digunakan sebagai checklist untuk mengevaluasi dan menemukan masalah UX secara lebih sistematis.

Apa yang Membuat Website Sulit Digunakan?

Website bisa terlihat menarik, tetapi belum tentu mudah digunakan. Pengunjung mungkin kesulitan menemukan informasi, bingung menentukan tombol yang harus diklik, atau tidak yakin apakah proses yang dilakukan sudah berhasil.

Secara sederhana, website sulit digunakan adalah website yang membuat pengguna kesulitan mencapai tujuannya, misalnya mencari informasi, membeli produk, atau menghubungi bisnis.

Beberapa contohnya:

  • Pengguna tidak tahu harus memilih menu yang mana.
  • Tombol penting sulit ditemukan.
  • Form terlalu panjang.
  • Pesan error tidak menjelaskan masalah.
  • Website sulit digunakan melalui HP.

Masalah seperti ini dapat dievaluasi menggunakan pendekatan usability, termasuk 10 heuristik usability dari Jakob Nielsen yang digunakan sebagai panduan untuk menemukan masalah pada desain dan interaksi pengguna.

10 Ciri Website dengan User Experience yang Buruk

Berikut adalah beberapa ciri website dengan UX atau User Experience yang Buruk sehingga tidak mudah dipahami oleh pengunjung.

1. Navigasi Membingungkan

Jika pengguna tidak tahu harus membuka menu yang mana, mereka bisa berhenti menjelajah website.

Ciri-cirinya:

  • Menu terlalu banyak.
  • Nama menu tidak jelas.
  • Informasi penting sulit ditemukan.

Perbaikan: sederhanakan menu utama dan gunakan istilah yang familiar bagi pengunjung.

2. Hierarki Informasi Tidak Jelas

Pengunjung harus bisa memahami informasi penting hanya dengan melihat halaman.

Masalah yang sering terjadi:

  • Headline kurang menonjol.
  • Informasi penting tertutup oleh elemen lain.
  • CTA sulit ditemukan.

Perbaikan: buat urutan informasi yang jelas, mulai dari headline, penjelasan, hingga tindakan yang ingin dilakukan pengguna.

3. CTA Tidak Jelas

CTA atau Call-to-Action membantu pengguna mengetahui langkah berikutnya.

Contohnya:

  • Beli Sekarang
  • Minta Penawaran
  • Hubungi Kami
  • Konsultasi Gratis

Sebaiknya jangan membuat pengguna menebak apa yang akan terjadi setelah tombol diklik.

4. Website Lambat

Website yang membutuhkan waktu lama untuk dimuat dapat mengganggu pengalaman pengguna.

Beberapa langkah yang bisa dicoba:

  • Kompres gambar.
  • Gunakan caching.
  • Kurangi script yang tidak diperlukan.
  • Optimalkan file CSS dan JavaScript.

Kecepatan memang bukan satu-satunya faktor UX, tetapi performa yang buruk dapat menambah friksi ketika pengguna ingin mengakses informasi atau menyelesaikan suatu proses.

5. Tidak Ramah Mobile

Banyak pengunjung mengakses website melalui smartphone. Jika tampilan di HP berantakan, pengguna bisa kesulitan melakukan tindakan sederhana.

Periksa hal-hal seperti:

  • Ukuran teks mudah dibaca.
  • Tombol cukup besar untuk disentuh.
  • Form mudah diisi.
  • Menu dapat digunakan dengan nyaman.

6. Terlalu Banyak Pop-up

Pop-up dapat digunakan untuk promosi atau mengumpulkan leads, tetapi terlalu banyak pop-up justru mengganggu.

Sebaiknya:

  • Batasi jumlah pop-up.
  • Jangan langsung menutup konten utama.
  • Pastikan tombol close mudah ditemukan.
  • Tampilkan pop-up pada konteks yang relevan.

7. Form Terlalu Panjang

Form yang meminta terlalu banyak informasi dapat membuat pengguna malas melanjutkan. Untuk form kontak atau lead generation, tanyakan data yang memang diperlukan.

Misalnya, cukup mulai dari:

  • Nama.
  • Email atau nomor WhatsApp.
  • Kebutuhan pengguna.

Jika informasi tambahan memang diperlukan, Anda bisa memintanya pada tahap berikutnya.

8. Bahasa Website Sulit Dipahami

Penggunaan istilah teknis atau bahasa yang terlalu “salesy” dapat membuat pengunjung ragu.

Coba gunakan:

  • Bahasa yang sederhana.
  • Kalimat yang langsung ke inti.
  • Penjelasan manfaat yang jelas.
  • Istilah yang familiar bagi target pengguna.

Prinsip ini juga sejalan dengan heuristik Nielsen tentang match between the system and the real world, yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan pemahaman pengguna.

9. Tidak Ada Trust Signal

Pengunjung membutuhkan alasan untuk percaya sebelum membeli atau memberikan data.

Beberapa elemen yang dapat membantu antara lain:

  • Testimoni pelanggan.
  • Informasi kontak yang jelas.
  • Alamat bisnis.
  • Metode pembayaran.
  • Kebijakan pengembalian atau layanan.
  • Sertifikasi atau informasi keamanan jika relevan.

10. Pesan Error Tidak Membantu

Pesan seperti “Something went wrong” tidak banyak membantu pengguna. Lebih baik, pesan error menjelaskan tentang beberapa hal berikut:

  1. Apa yang terjadi.
  2. Mengapa masalah mungkin terjadi.
  3. Apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Pendekatan ini sesuai dengan heuristik Nielsen “recognize, diagnose, and recover from errors”, yang menekankan agar pesan error ditulis dengan bahasa yang jelas dan memberikan solusi.

Cara Mengecek Website Tanpa Tools Mahal

Anda tidak selalu membutuhkan tools khusus untuk menemukan masalah usability. Cobalah menggabungkan data website dengan pengamatan langsung.

Beberapa cara sederhana:

  1. Periksa data Analytics untuk melihat halaman dengan performa yang kurang baik.
  2. Minta beberapa orang mencoba website dan beri tugas sederhana, misalnya mencari produk atau menghubungi bisnis.
  3. Perhatikan bagian yang membuat mereka berhenti atau bertanya.
  4. Jika tersedia, gunakan rekaman sesi untuk melihat bagaimana pengunjung berinteraksi dengan halaman.

Cara seperti ini membantu menemukan masalah yang sering tidak terlihat oleh pemilik website karena sudah terlalu terbiasa dengan alurnya.

Checklist Perbaikan UX

Jika ingin mulai memperbaiki website, Anda bisa menggunakan checklist berikut:

  • Navigasi mudah dipahami.
  • CTA terlihat dan menggunakan kata yang jelas.
  • Website cepat dimuat.
  • Tampilan nyaman di mobile.
  • Pop-up tidak berlebihan.
  • Form tidak terlalu panjang.
  • Bahasa mudah dipahami.
  • Trust signal tersedia.
  • Pesan error memberikan solusi.

Mulailah dari masalah yang paling sering menghambat pengguna menyelesaikan tujuan mereka.

Ringkasan Masalah UX dan Perbaikannya

MasalahDampakPerbaikan
Navigasi rumitPengguna tersesatSederhanakan menu
CTA tidak jelasPengguna bingungGunakan CTA yang spesifik
Website lambatPengalaman tergangguOptimalkan gambar dan caching
Mobile burukSulit digunakan di HPPerbaiki responsive design
Form terlalu panjangPengguna berhentiKurangi field
Error tidak jelasPengguna tidak tahu harus melakukan apaBerikan pesan dan solusi

UX Bagus Membutuhkan Pondasi Website yang Stabil

UX bukan hanya soal desain dan warna. Website yang tampil menarik tetap bisa memberikan pengalaman buruk jika sering lambat, error, atau sulit diakses.

Karena itu, performa dan infrastruktur website juga perlu diperhatikan. Salah satu pilihannya adalah Hosting Murah Rumahweb, yang saat ini tersedia mulai Rp15.000 per bulan. Rumahweb juga mencantumkan 99,9% uptime, sertifikasi ISO 27001, SSL gratis, bantuan migrasi, Imunify360 Security, akses SSH, Python & Node.js, Redis Object Cache, serta Weekly Offshore Backup sesuai paket.

FAQ

Berikut beberapa pertanyaan tentang bad User experience atau User experience yang buruk pada website.

1. Apa tanda paling umum website dengan user experience yang buruk?

Navigasi membingungkan, loading lama, dan CTA tidak jelas.

2. Apakah website yang bagus harus selalu “minimalis”?

Tidak, tapi harus punya hierarki jelas dan tidak membebani pengguna.

3. Bagaimana cara cepat mengecek UX?

Minta 5 orang mencoba melakukan 1 tugas (misalnya cari produk dan kontak), lalu catat titik bingung.

4. Apakah memperbaiki UX bisa menaikkan penjualan?

Bisa, karena UX mengurangi friksi dan meningkatkan kepercayaan.

5. Apa perbaikan paling cepat yang biasanya berdampak?

Percepat website dan perjelas CTA.

Kesimpulan

User experience yang buruk dapat membuat pengunjung kesulitan menggunakan website, mulai dari mencari informasi, memahami tombol, hingga menyelesaikan transaksi. Masalah ini tidak selalu berasal dari satu hal besar, tetapi bisa berupa berbagai hambatan kecil yang muncul sepanjang perjalanan pengguna.

Untuk menemukannya, Anda dapat mengevaluasi website dari sudut pandang pengguna, melihat data analitik, dan mengamati bagian yang paling sering menimbulkan masalah. Setelah itu, prioritaskan perbaikan pada masalah yang paling berdampak terhadap pengalaman pengguna dan tujuan website.

Pada akhirnya, UX yang baik tidak hanya soal tampilan yang menarik. Website juga perlu cepat dimuat, menggunakan bahasa yang jelas, serta memiliki alur yang mudah dipahami. Dengan memperhatikan hal tersebut, pengunjung dapat menggunakan website dengan lebih nyaman dan lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan.

Referensi

Bermanfaatkah Artikel Ini?

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Belum ada vote hingga saat ini!

Kami mohon maaf artikel ini kurang berguna untuk Anda!

Mari kita perbaiki artikel ini!

Beri tahu kami bagaimana kami dapat meningkatkan artikel ini?

Adellia Luluk Anggraini
Di sela-sela aktivitasnya membantu pelanggan menemukan solusi web yang tepat, ia aktif membagikan artikel edukatif seputar AI productivity, tren social media, hingga seluk-beluk dunia domain. Lewat tulisannya, Adellia ingin membantu pembaca mengoptimalkan produktivitas harian dan membangun identitas digital dengan cara yang simpel dan mudah dipahami.

Related Post

banner Pop Up - Hosting 99K