Dunia pengembangan software bergerak sangat cepat. Satu celah keamanan saja bisa meruntuhkan aplikasi yang dibangun berbulan-bulan. Di sinilah pendekatan modern seperti DevSecOps hadir sebagai solusi. DevSecOps adalah evolusi lanjutan dari DevOps yang mengintegrasikan keamanan langsung ke dalam setiap siklus pengembangan, bukan sekadar tambahan di akhir proses.
Hasilnya? Aplikasi yang lebih cepat dirilis, sekaligus lebih aman dari ancaman siber. Jika Anda ingin memahami bagaimana konsep ini bekerja dan mengapa semakin banyak tim developer mengadopsinya, baca artikel ini sampai selesai!
Ringkasan Cepat
- DevSecOps adalah pendekatan yang memasukkan keamanan sejak awal SDLC dan menjadikannya tanggung jawab bersama, sambil tetap menjaga kecepatan rilis.
- OWASP DevSecOps Guideline menekankan shift-left dan tujuan ideal “mendeteksi isu keamanan sedini mungkin” melalui secure pipeline dan praktik terbaik, termasuk SAST, SCA, DAST, IaC scanning, dan compliance check.
- NIST SSDF (SP 800-218) merekomendasikan kerangka praktik secure software development yang bisa diintegrasikan ke berbagai model SDLC untuk mengurangi kerentanan dan dampak eksploitasi.
- SLSA adalah framework dan checklist standar/kontrol untuk mencegah tampering, meningkatkan integritas artifact, dan mengamankan supply chain software, dengan beberapa track dan level.
Apa itu DevSecOps?
DevSecOps adalah penyempurnaan devOps yang membangun keamanan ke semua aspek proses, baik itu dari perencanaan hingga tahap produksi. Tujuan utama dari DevSecOps sendiri yaitu untuk mengatasi masalah keamanan dari awal proyek. Kerangka kerja DevSecOps tidak hanya bertanggung jawab atas kualitas dan integrasi kode, tetapi juga keamanan.
Also Read
DevSecOps selalu dilibatkan dalam diskusi implikasi keamanan selama perencanaan dan mulai menguji masalah keamanan di lingkungan pengembangan, bukan menunggu hingga akhir. DevSecOps adalah hal yang sangat penting untuk diikutsertakan dalam berbagai proyek, karena pengetahuan keamanan yang uptodate dan penulisan program kode yang sesuai kaidah bahasa program.
Pada beberapa praktek pemrograman, ada yang sama sekali tidak menerapkan konsep keamanan bahkan cenderung tidak diprioritaskan dan akhirnya terabaikan oleh organisasi.
Dengan mengabaikan DevSecOps, maka kemungkinan besar setiap proyek yang Anda atau tim kerjakan akan mulai banyak mengalami masalah keamanan dan integritas data. Misalnya aplikasi yang Anda buat, dapat dengan mudah di crack orang lain untuk mendapatkan lisensi berbayar secara gratis dan praktik kejahatan siber lainnya.
Hingga saat ini, prospek kerja sebagai DevSecOps sangat terbuka luas, sehingga sangat memungkinkan diterima jika Anda memiliki pemahaman dasar dan tingkat lanjut mengenai teknologi, analisis dan perlindungan kode dengan menerapkan standar pemrograman yang benar dan terstruktur untuk mengantisipasi ancaman keamanan yang dapat terjadi pada proyek.
BACA JUGA : Project Management: Definisi dan Tools yang Sering Digunakan
Konsep DevSecOps
DevSecOps memiliki konsep dasar yang dikenal dengan Development, Security, Operation. Konsep DevSecOps diciptakan berdasar kebutuhan pendahulunya yaitu DevOps dalam meningkatkan keamanan dan integritas data.
DevSecOps berada di ruang-lingkup dinamis yang selalu dilibatkan dalam perencanaan hingga memulai pembuatan proyek yang dikenal sebagai SDLC.
Prinsip utama dari DevSecOps sendiri meliputi beberapa hal, yaitu:
- Integrasi: Keamanan dipertimbangkan di setiap tahap SDLC, mulai dari desain dan pengembangan hingga pengujian dan implementasi.
- Kolaborasi: Tim pengembang, operasi maupun tim keamanan dapat bekerja sama secara terstruktur untuk memastikan keamanan proyek yang sedang dikerjakan.
- Otomatisasi: Alat dan proses otomatis digunakan untuk mengintegrasikan pengujian keamanan, pemindaian kerentanan, dan aktivitas keamanan lainnya ke dalam pipeline DevOps.
- Pendekatan berkelanjutan: Keamanan tidak sebatas perancangan, namun juga hingga tahap produksi yang terus-menerus dilakukan monitoring dan peningkatan yang berkelanjutan.
Jika masih bertanya-tanya mengapa DevSecOps perlu dilibatkan dalam proyek, jawabannya berkaitan dengan pentingnya menjaga keamanan tanpa menghambat proses pengembangan. Pendekatan ini sangat relevan, terutama untuk proyek berskala besar atau yang dirancang untuk jangka panjang.
Kelebihan DevSecOps
DevSecOps memiliki peran penting dalam penerapan Software Development Life Cycle atau SDLC, terutama untuk proyek berskala besar maupun yang digunakan dalam jangka panjang. Pendekatan ini membantu memastikan proses pengembangan berjalan lebih terstruktur, sekaligus tetap memperhatikan aspek keamanan sejak awal.
Secara singkat, penerapan SDLC bertujuan agar perangkat lunak yang dikembangkan:
- memenuhi kebutuhan pengguna
- memiliki kualitas yang terjaga
- mudah dipelihara dan dikembangkan
Dengan fondasi tersebut, DevSecOps hadir untuk memperkuat keamanan tanpa mengganggu alur kerja. Lalu, apa saja alasan utama mengapa pendekatan ini penting untuk diterapkan? Berikut penjelasannya.
1. Keamanan yang terintegrasi
DevSecOps dapat mengadopsi konsep SDLC meskipun memiliki konsep keamanan sendiri dalam perancangan hingga monitoring di tingkat produksi. DevSecOps diharapkan dapat mengidentifikasi hingga menyelesaikan masalah keamanan dengan cepat.
2. Kolaborasi dan komunikasi
DevSecOps adalah salah satu proses yang mengupayakan pendekatan humanis dalam mendorong tim pengembang, operasi, dan keamanan untuk belajar dan bekerja sama dalam organisasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, cepat dan efektif.
3. Memiliki standar konsep keamanan
DevSecOps memiliki standar yang terstruktur, mulai dari tahap perencanaan hingga monitoring. Hal ini membantu tim dalam melakukan analisis serta menentukan langkah pemecahan masalah secara lebih sistematis dan terarah.
4. Keterbiasaan dalam hal keamanan
Lingkungan kerja yang terbiasa membahas aspek keamanan membuat peran DevSecOps lebih responsif terhadap ancaman terbaru. Dengan pemahaman yang terus diperbarui, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat.
Kekurangan DevSecOps
Dari beberapa kelebihan diatas, ternyata DevSecOps juga memiliki hal yang dianggap sebagai kekurangan untuk dilibatkan dalam proyek. Apa saja kekurangannya?
1. Kurang fleksibel
DevSecOps memiliki kekurangan dalam hal fleksibilitas proyek yang dikerjakan, hal ini karena seorang atau tim yang ditunjuk dalam menangani suatu masalah keamanan pasalnya tidak sejalan dengan pola pikir developer yang begitu-begitu saja dan tidak uptodate.
2. Pengeluaran
Menambah divisi keamanan dalam lingkup pengembangan proyek, artinya Anda perlu mengucurkan dana lebih banyak daripada biasanya. Perlu diketahui bahwa, seorang yang dilibatkan dalam bagian keamanan data dan informasi biasanya memerlukan biaya yang tidak murah.
3. Proses
Seorang DevSecOps dituntut untuk bisa menganalisa dan menyelesaikan masalah keamanan dengan tepat dan cepat, namun terkadang hal ini menjadi masalah ketika proyek yang dikerjakan memiliki skala yang lebih besar sehingga memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya.
Contoh konsep DevSecOps
Sama seperti DevOps dengan melibatkan konsep SDLC, fokus dari DevSecOps juga memiliki konsep sendiri yang dapat Anda aplikasikan dalam proyek-proyek yang akan dikerjakan.
1. Integrasi
- Threat Modeling: DevSecOps akan melakukan identifikasi dan analisis potensi ancaman keamanan di awal fase pengembangan sebelum dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Pengecekan ini dilakukan secara cepat dan diharapkan meminimalkan bug yang dapat merugikan.
- SAST (Static Application Security Testing): Penerapan SAST bertujuan untuk menganalisa kode-kode program yang telah dibuat untuk menemukan kerentanan keamanan sebelum diputuskan apakah dapat di publish atau tidak.
- DAST (Dynamic Application Security Testing): Penggunaan DAST diperuntukan sebagai pengujian aplikasi yang telah berjalan dengan tujuan untuk menemukan kerentanan keamanan.
2. Otomatisasi
- CI/CD Pipeline: Otomatisasi yang pertama berkaitan dengan proses integrasi ke dalam pipeline CI/CD untuk memindai, menguji, dan membangun aplikasi secara otomatis, Anda hanya perlu melakukan pengecekan proses tersebut berjalan dengan baik.
- IaC (Infrastructure as Code): Setiap kode yang dibangun harus sesuai dan memiliki infrastruktur yang jelas dalam penerapan keamanan, memastikan konsistensi dan kepatuhan terpenuhi.
- Monitoring Keamanan: Monitoring harus menghasilkan data yang realtime agar selalu dapat memantau, mendeteksi dan merespons setiap aktivitas mencurigakan.
3. Kolaborasi Tim
- Pembentukan Tim: Tim DevSecOps terdiri dari developer, operation, dan pakar keamanan yang bekerja sama untuk mengintegrasikan keamanan dalam setiap proyek yang dikerjakan.
- Komunikasi Terbuka: Komunikasi yang terbuka dan transparan antara tim untuk memastikan semua pihak mengetahui risiko dan solusi keamanan.
- Pemahaman Keamanan Bersama: Menumbuhkan pengetahuan keamanan seperti memberikan edukasi terhadap semua pihak di mana keamanan menjadi tanggung jawab semua orang, bukan hanya tim keamanan.
4. Pengembangan Diri
- Belajar dari Kegagalan: Mulai belajar dan memahami setiap kegagalan yang pernah terjadi, lalu review dan post-mortem pada insiden itu.
- Perbarui Praktik Keamanan: Ikuti trend terkait perkembangan terbaru threat keamanan dan perbanyak praktek keamanan di ruang lingkup milik sendiri jika memiliki mini lab terkait keamanan.
Jika muncul rasa penasaran tentang bagaimana peran DevSecOps diterapkan di dunia industri, terutama yang mungkin relevan dengan lingkungan kerja, berikut gambaran singkatnya:
- Industri Keuangan: DevSecOps memiliki peran dalam melindungi data sensitif pelanggan dan mematuhi peraturan kepatuhan.
- Industri Ritel: DevSecOps memiliki fokus terhadap menjaga keamanan platform e-commerce dan mencegah penipuan.
- Industri Kesehatan: DevSecOps memiliki peran dalam melindungi data pasien dan memastikan privasi tetap terjaga.
- Industri Manufaktur: DevSecOps mengharuskan pengamanan di sisi sistem kontrol industri dan mencegah gangguan selama operasional.
Cara Kerja DevSecOps dalam Pipeline Modern
Untuk memahami bagaimana DevSecOps bekerja secara nyata, perlu dilihat bagaimana keamanan diintegrasikan ke dalam setiap tahap pengembangan. Pendekatan ini memastikan bahwa proses tidak hanya cepat, tetapi juga tetap terlindungi dari berbagai potensi risiko.
Dalam pipeline modern, keamanan diterapkan secara menyeluruh di setiap fase berikut:
- Operate: Memantau ancaman dan merespons insiden secara cepat di lingkungan produksi.
- Plan & Design: Melakukan pemodelan ancaman (threat modeling) sebelum kode ditulis.
- Code: Melakukan pengecekan keamanan saat developer menulis kode (pre-commit checks).
- Build: Memeriksa apakah dependensi yang digunakan (pustaka pihak ketiga) memiliki celah keamanan.
- Test: Menjalankan pemindaian otomatis (SAST/DAST) untuk mencari kerentanan.
- Release/Deploy: Memverifikasi bahwa infrastruktur aman sebelum aplikasi benar-benar online.
Praktik DevSecOps yang Paling Berdampak
Setelah memahami alur kerjanya, langkah berikutnya adalah mengetahui praktik yang benar-benar memberikan dampak nyata. Beberapa pendekatan berikut bisa menjadi titik awal yang kuat, terutama bagi yang baru mulai menerapkan DevSecOps:
- Supply Chain Security: Menjaga integritas seluruh komponen. Jangan hanya cek kode Anda, cek juga paket open-source yang Anda gunakan. Framework seperti SLSA membantu memastikan komponen yang Anda gunakan tidak dimodifikasi oleh pihak jahat.
- Shift-Left Security: Deteksi masalah sedini mungkin. Misalnya, menggunakan tools yang otomatis memblokir kode jika terdeteksi ada “password” atau “API key” yang tertulis langsung di dalam repositori.
- Security as Code: Mengubah aturan keamanan menjadi skrip otomatis. Jika aturan sudah tertulis dalam kode, pengecekan jadi konsisten dan tidak bergantung pada mood manusia saat audit manual.
Perbedaan DevSecOps dan DevOps
Perbedaan DevSecOps dan DevOps terletak di fase antara development dan operation, kalau DevOps tidak memiliki lingkup pengujian keamanan proyek, maka hal tersebut sebaliknya dengan DevSecOps.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, DevSecOps adalah hasil pembaruan dari DevOps yang memiliki tugas dalam hal perencanaan hingga pengujian proyek aplikasi yang dikerjakan.
| Aspek | DevOps | DevSecOps |
| Fokus | Kolaborasi antara tim pengembangan dan operasi untuk menyederhanakan pengiriman perangkat lunak. | Integrasi praktik keamanan ke dalam proses DevOps untuk memastikan pengiriman perangkat lunak yang aman dan tangguh. |
| Tujuan utama | Pengembangan dan pengiriman perangkat lunak lebih cepat dan efisien. | Pengiriman perangkat lunak yang aman dan tangguh dengan fokus pada keamanan berkelanjutan. |
| Integrasi Keamanan | Pertimbangan keamanan dasar diintegrasikan ke dalam proses. | Praktik keamanan terintegrasi sejak awal (yaitu “bergeser ke kiri”), dengan keamanan sebagai tanggung jawab bersama. |
| Otomatisasi | Otomatisasi proses pengembangan, pengujian, dan penerapan. | Otomatisasi pengujian keamanan, pemindaian kerentanan, pemeriksaan kepatuhan, dll. |
| Keterlibatan Tim | Tim pengembangan dan operasi terintegrasi menjadi satu kesatuan yang kolaboratif. | Tim pengembangan, operasi, dan keamanan bekerja sama secara kolaboratif. |
| Tampilan Siklus Hidup | Pengembangan dan pengiriman perangkat lunak. | Keamanan terintegrasi di setiap tahap SDLC. |
| Pergeseran Budaya | Fokus untuk menghilangkan silo antara tim pengembangan dan operasi. | Penekanan pada pergeseran budaya menuju kesadaran keamanan dan kolaborasi antar tim. |
| Alat dan Teknologi | Alat CI/CD, manajemen konfigurasi, alat pemantauan, infrastruktur sebagai kode (IaC). | Alat pengujian keamanan, pemindai kerentanan, sistem informasi keamanan dan manajemen peristiwa (SIEM). |
Tools DevSecOps dan Fungsinya
Untuk menjalankan DevSecOps secara optimal, berbagai tools digunakan guna mengotomatisasi proses keamanan di setiap tahap pengembangan. Dengan bantuan alat ini, potensi risiko dapat dideteksi lebih cepat dan ditangani secara lebih efisien.
Beberapa tools yang umum digunakan dalam praktik DevSecOps antara lain:
- Container/Image Scanning: Memastikan sistem operasi mini yang membungkus aplikasi Anda aman dari virus atau celah lama.
- Secret Scanning: Mendeteksi kebocoran token atau kunci API di repositori.
- SAST (Static Testing): Memindai kode sumber untuk menemukan pola yang rentan.
- SCA (Software Composition Analysis): Memeriksa dependensi pihak ketiga terhadap daftar kerentanan (CVE).
- DAST (Dynamic Testing): Menguji aplikasi yang sudah berjalan dari sudut pandang penyerang luar.
Framework DevSecOps untuk menyusun strategi keamanan
Saat mulai menerapkan DevSecOps, tantangan terbesar biasanya bukan kurangnya tools, tetapi kebingungan menentukan prioritas. Di sinilah framework berperan: memberi arah tentang apa yang sebaiknya dibangun terlebih dahulu.
Beberapa acuan yang sering dipakai di praktik:
1. NIST SSDF (SP 800-218)
SSDF dirancang untuk melengkapi SDLC yang sering kali belum membahas keamanan secara mendalam. Framework ini berisi praktik tingkat tinggi yang bisa diintegrasikan ke berbagai proses pengembangan.
Yang membuat SSDF relevan:
- Memberi daftar praktik inti secure development
- Fokus pada pencegahan, bukan hanya perbaikan
- Membantu mengurangi jumlah dan dampak vulnerability
Secara sederhana, SSDF cocok dijadikan “baseline” apa saja yang minimal harus ada dalam proses development yang aman.
2. OWASP DevSecOps Guideline
Kalau SSDF terasa konseptual, guideline dari OWASP lebih praktis.
Panduan ini membantu Anda memetakan kontrol keamanan langsung ke pipeline CI/CD, termasuk:
- Tahapan scanning (SAST, SCA, DAST, dll.)
- Integrasi security ke workflow developer
- Praktik shift-left security
Framework ini cocok untuk Anda yang ingin langsung “menghidupkan” DevSecOps di pipeline, bukan hanya di dokumen.
3. SLSA (Supply Chain Security)
SLSA fokus pada satu area yang sering diremehkan: integritas software supply chain.
Framework ini membantu menjawab pertanyaan seperti:
- Siapa yang membangun artifact ini?
- Dari source mana?
- Apakah proses build bisa dipercaya?
SLSA juga memperkenalkan konsep level (maturity), di mana semakin tinggi levelnya, semakin kuat perlindungan terhadap manipulasi (tampering).
Framework ini sangat berguna jika Anda mulai bergantung pada banyak dependensi, build pipeline kompleks, atau distribusi artifact lintas tim.
Tantangan Menerapkan DevSecOps
Tantangan DevSecOps biasanya bukan “tidak punya tools”, tetapi friction, seperti false positive, time cost, dan perubahan kebiasaan tim. Berikut adalah beberapa tantangan yang paling umum dalam proses menerapkan DevSecOps:
- False positive: scan terlalu berisik, tim jadi mengabaikan alert
- Tool sprawl: kebanyakan tool, tidak ada standar output dan triage
- Pipeline melambat: scanning terlalu berat di tiap commit
- Security gate yang terlalu kaku: semua dianggap blocker, delivery macet
- Kesenjangan skill: dev tidak nyaman security, security tidak nyaman CI/CD
Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlewat: ketika setiap pull request terus gagal karena aturan yang tidak jelas, apakah sistem benar-benar menjadi lebih aman, atau justru mendorong tim mencari jalan pintas?
Di sinilah pentingnya menetapkan aturan yang realistis. DevSecOps yang efektif bukan tentang seberapa ketat kebijakan yang diterapkan, melainkan seberapa konsisten dan dapat dijalankan dalam alur kerja sehari-hari. Aturan yang terlalu kaku justru berisiko menghambat produktivitas dan menurunkan kualitas kolaborasi tim. Sebaliknya, pendekatan yang seimbang akan membantu menjaga keamanan tanpa mengorbankan efisiensi proses pengembangan.
Tabel: kontrol keamanan vs tahap pipeline
| Tahap pipeline | Kontrol keamanan yang umum | Output yang dicari |
|---|---|---|
| Pre-commit/PR | Secret scanning, lint/policy | tidak ada credential bocor, standar coding terpenuhi |
| Build | SCA, dependency pinning | dependensi aman, versi terkendali |
| Test | SAST, unit/integration + security cases | pola bug keamanan terdeteksi lebih awal |
| Staging | DAST/IAST (jika ada) | temuan dari aplikasi yang berjalan |
| Deploy | IaC scanning, policy gate | konfigurasi infra aman |
| Operate | monitoring, alerting | deteksi insiden dan anomali |
Checklist implementasi DevSecOps untuk pemula, mulai dari yang paling berdampak
Jawaban langsung: mulai dari kontrol yang paling sering mencegah kebocoran fatal, lalu tingkatkan kematangan secara bertahap. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding langsung menerapkan banyak kontrol sekaligus tanpa kesiapan tim.
Minggu 1 (quick wins)
- aktifkan secret scanning
- tentukan standar severity (mis. critical/high blocker)
- buat proses triage: siapa yang menangani temuan
Bulan 1 (stabilkan pipeline)
- tambah SCA untuk dependensi
- tambah SAST untuk repo utama
- buat baseline policy (mis. jangan ada dependency rentan parah)
- dokumentasikan “cara perbaiki temuan yang sering muncul”
Kuartal 1 (naik kelas)
- IaC scanning untuk infra
- container/image scanning (jika pakai container)
- mulai memikirkan supply chain: provenance/SBOM (konsep)
- latihan incident response ringan
Pro tip dari tim: Lebih efektif memiliki tiga kontrol yang benar-benar konsisten digunakan dibandingkan sepuluh kontrol yang sering dimatikan karena dianggap menghambat pekerjaan.
Pipeline butuh environment yang bisa dikontrol
Keberhasilan DevSecOps sangat bergantung pada otomatisasi yang konsisten dan lingkungan yang fleksibel. Anda membutuhkan infrastruktur yang andal untuk menjalankan CI runner, melakukan pemindaian keamanan (scanning tools), hingga mengelola lingkungan staging secara mandiri.
Agar alur kerja DevSecOps berjalan mulus dengan kontrol penuh, VPS murah dari Rumahweb adalah solusi ideal. Dengan performa tinggi dan kebebasan konfigurasi, Anda bisa mengintegrasikan setiap lapisan keamanan ke dalam pipeline dengan lebih stabil dan profesional.
FAQ
Tidak harus. Anda bisa mulai dari security champion + aturan sederhana di pipeline.
Biasanya secret scanning dan SCA, karena dampaknya besar dan relatif cepat diadopsi.
Kalau implementasinya tidak bertahap, bisa. Kuncinya adalah prioritas dan gating berbasis risiko.
SAST memindai kode (statik), DAST menguji aplikasi yang berjalan (dinamik).
Karena kerentanan tidak hanya dari kode Anda, tetapi juga dari dependensi dan proses build.
SSDF memberi vocabulary dan praktik secure development tingkat tinggi yang bisa dipasang ke SDLC agar kerentanan berkurang dan dampak eksploitasi menurun
Sebagai panduan pipeline aman, praktik terbaik, dan contoh langkah/tool untuk shift-left
SLSA adalah framework/checklist untuk meningkatkan integritas artifact dan mencegah tampering di supply chain software.
Kesimpulan
DevSecOps adalah proses yang menyempurnakan DevOps dengan mengintegrasikan keamanan di seluruh proses. Tujuannya untuk mengatasi masalah keamanan sejak awal proyek dibuat. Penting bagi proyek untuk memprioritaskan keamanan dan melibatkan DevSecOps sejak dini, untuk mencegah potensi ancaman keamanan siber dan pelanggaran data.
Selain itu, penting untuk menerapkan praktik DevSecOps guna memastikan kualitas kode dan otomatisasi berkelanjutan. DevSecOps dapat membantu organisasi Anda mengatasi masalah integritas data dan kualitas dalam berbagai proyek.
Oleh karena itu, pekerjaan DevSecOps luas, terutama jika individu memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kuat dalam teknologi, analisis, dan pengembangan perangkat lunak.








