Rumahweb Blog
Banner - Apa Itu Investasi adalah

Apa Itu Investasi? Pengertian, Jenis hingga Risikonya

Apa yang Anda bayangkan saat mendengar kata investasi? Uang, keuntungan, risiko, atau yang lainnya? Investasi adalah istilah yang akhir-akhir ini sering didengar. Baik dalam perbincangan sehari-hari maupun di media sosial.

Bagi Anda yang tertarik untuk terjun di dunia investasi, simak artikel satu ini sampai habis, karena Rumahweb telah merangkumnya secara lengkap untuk Anda!

Apa Itu Investasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan.

Sedangkan menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investasi adalah penanaman modal, biasanya dalam jangka panjang, untuk pengadaan aktiva lengkap atau pembelian saham-saham dan surat berharga lain yang bertujuan memperoleh keuntungan.

Dari definisi di atas, terdapat beberapa kata kunci, yaitu modal, jangka waktu, dan keuntungan. Sehingga jika disederhanakan, investasi adalah penanaman modal dalam bentuk uang atau aset berharga dalam jangka waktu tertentu dengan harapan bisa memberikan keuntungan.

Sebutan untuk orang yang melakukan investasi adalah investor. Para investor ini biasanya menanamkan modal kepada badan atau pihak pengelola untuk dikembangkan. Nantinya, keuntungan dari pengembangan tersebut akan dibagikan kepada investor sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak.

Secara lebih rinci, tujuan dari investasi adalah:

  1. Mendapatkan penghasilan tetap.
  2. Mendapatkan jaminan dalam bisnis.
  3. Mengembangkan usaha.
  4. Mengontrol dana untuk kepentingan khusus.
  5. Mengurangi tekanan inflasi.
  6. Memperoleh kehidupan yang lebih stabil dan layak di masa yang akan datang.
  7. Berpartisipasi dalam pembangunan negara.

Jenis Investasi

Jenis investasi bisa dilihat dari dua kategori, yaitu berdasarkan waktu dan bentuk. Berikut adalah penjelasan selengkapnya.

Berdasarkan waktu

Jenis investasi berdasarkan waktu dibedakan antara jangka pendek dan jangka panjang. Berikut penjelasannya.

Investasi Jangka Pendek

Investasi jangka pendek memungkinkan Anda mendapatkan keuntungan kurang dari tiga tahun dan bisa langsung dikonversikan ke dalam bentuk uang atau jual. Namun return-nya juga lebih kecil.

Contoh investasi jangka pendek di antaranya seperti pasar saham, sertifikat deposito, dan obligasi jangka pendek.

Investasi Jangka Panjang

Investasi jenis ini membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya dalam lima tahun, belasan, atau bahkan puluhan tahun. Return yang dihasilkan tentu juga lebih besar. Misalnya, investasi saham dan investasi emas.

Berdasarkan Bentuk

Selanjutnya, jika dilihat dari bentuknya, jenis investasi yang ada saat ini adalah:

1. Investasi Properti

Investasi dalam bentuk fisik seperti tanah atau bangunan bisa sangat menguntungkan, karena harganya yang pasti meningkat setiap tahun. Tak hanya dijual, Anda juga bisa menyewakan investasi properti ini.

2. Investasi Emas

Jenis lain yang sangat populer dalam investasi adalah emas. Emas adalah bentuk investasi paling klasik dan paling mudah. Emas yang diinvestasikan bisa dalam bentuk logam mulia, perhiasan, emas batangan, hingga voucher emas.

3. Investasi Reksadana

Reksadana dianggap jenis investasi yang cocok bagi investor pemula. Sederhananya, reksadana merupakan wadah untuk menghimpun dana dari para pemodal untuk diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi (MI).

4. Investasi Saham

Saham adalah tanda kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Dengan menanamkan modal, investor memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, aset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

5. Investasi Cryptocurrency

Terbaru, ada jenis investasi cryptocurrency yang tengah marak di tengah masyarakat. Jenis investasi ini tidak memiliki nilai wajar yang jelas. Cryptocurrency ini biasanya diperjualbelikan dalam bentuk coin

Contoh Investasi

Untuk lebih memahami investasi, Rumahweb akan memberikan satu contoh:

Budi membeli rumah untuk investasi di perumahan Taman Asri Tangerang dengan harga Rp300 juta pada tahun 2012. 10 tahun kemudian, rumah tersebut sudah dihargai Rp600 juta. Artinya, keuntungan yang didapat Budi dari rumah investasi adalah Rp300 juta.

Contoh lain dari investasi adalah Budi membeli 5 gram emas batangan seharga Rp2 juta di tahun 2012. 10 tahun kemudian, harga emas meningkat menjadi Rp500 ribu per gramnya. Jadi ketika Budi menjual kembali emasnya di tahun 2022 ini, ia akan mendapatkan Rp2,5 juta. Artinya, Budi mendapatkan keuntungan sebesar Rp500 ribu dari hasil investasinya.

Baca juga artikel : Membeli Domain untuk Investasi Jangka Panjang

Risiko Investasi

Tak hanya keuntungan, risiko investasi juga perlu Anda pertimbangkan. Risiko investasi adalah kondisi di mana investor berpotensi mengalami kerugian. Keuntungan atau imbal hasil yang diharapkan tidak sesuai.

Investasi adalah high risk-high return. Artinya, semakin tinggi risiko yang ada maka semakin tinggi pula keuntungan yang didapatkan. Karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui risiko ini sebelum mulai berinvestasi.

Beberapa risiko investasi adalah:

1. Risiko Inflasi

Risiko inflasi dalam investasi adalah risiko yang menunjukkan bahwa nilai kas dari investasi saat ini tidak akan bernilai sebanyak di masa depan, karena adanya perubahan daya beli akibat inflasi.

Jenis risiko ini mempunyai potensi yang merugikan daya beli masyarakat terhadap investasi karena  adanya kenaikan rata-rata dari harga konsumsi. Risiko inflasi berpotensi terjadi pada investor yang memegang uang tunai atau yang berinvestasi di aset yang berhubungan dengan inflasi.

2. Risiko Suku Bunga

Risiko selanjutnya dalam investasi adalah risiko suku bunga. Jenis risiko ini membuat nilai relatif aset berbunga, seperti obligasi atau pinjaman, menurun akibat peningkatan suku bunga.

3. Risiko Negara

Jenis risiko lain dalam investasi adalah risiko negara atau politik. Risiko ini berhubungan dengan aktivitas atau kondisi politik suatu negara, termasuk perubahan perundang-undangan yang berpengaruh terhadap perekonomian.

4. Risiko Likuiditas

Risiko investasi jenis ini timbul akibat sulitnya ketersediaan uang tunai dalam suatu periode tertentu.

Misalnya pihak A tak bisa membayar kewajibannya secara tunai saat jatuh tempo. Meski ia memiliki aset untuk melunasi utangnya, tetapi jika aset tersebut tidak bisa dikonversikan dalam bentuk uang tunai, maka asetnya disebut tidak likuid.

5. Risiko Pasar

Risiko berikutnya yang patut Anda ketahui dalam investasi adalah risiko pasar. Jenis risiko ini disebabkan oleh fluktuasi Nilai Aktiva Bersih (NAB). Fluktuasi tersebut bisa dipengaruhi oleh resesi ekonomi, kerusuhan, spekulasi, dan perubahan politik.

Risiko pasar juga disebut risiko sistematik yang berarti tidak bisa dihindari oleh para investor apa pun risk profile-nya.

6. Risiko Valutas Asing

Risiko ini disebabkan oleh adanya perubahan kurs valuta asing di pasaran. Sederhananya, risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.

7. Risiko Reinvestasi

Jenis risiko terakhir dalam investasi adalah risiko reinvestasi. Risiko ini terjadi pada penghasilan suatu aset keuangan yang mengharuskan mereka untuk melakukan investasi kembali.

Besar kemungkinan, arus kas investasi akan menghasilkan keuntungan yang lebih kecil usai direinvestasikan ke produk baru.

Sebelum Anda terjun ke dalam dunia investasi, Anda perlu mempertimbangkan keuntungan dan risikonya agar tak merasa rugi atau menyesal di kemudian hari. Tertarik mencoba?

Bermanfaatkah Artikel Ini?

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 3.7 / 5. Vote count: 3

Belum ada vote hingga saat ini!

Kami mohon maaf artikel ini kurang berguna untuk Anda!

Mari kita perbaiki artikel ini!

Beri tahu kami bagaimana kami dapat meningkatkan artikel ini?

Cloud Hosting Terbaik Rumahweb

Hairum Fellayati

Scrolling, Writing and Editing

banner pop up - Pindah Hosting ke Rumahweb