Semua orang ingin kontennya viral. Satu video bisa tiba-tiba ramai, mendatangkan banyak penonton, bahkan membuat sebuah brand semakin dikenal. Namun, konten viral tidak selalu terjadi hanya karena kontennya bagus. Momentum, distribusi, emosi, dan alasan orang mau membagikannya juga ikut berperan. Viral Marketing adalah salah satu pendekatan yang memanfaatkan perilaku tersebut untuk mendorong konten menyebar lebih luas melalui audiens.
Salah satu konsep yang dapat membantu memahami perilaku ini adalah STEPPS dari Jonah Berger. Konsep tersebut menjelaskan enam faktor yang dapat mendorong orang membicarakan dan membagikan sesuatu, yaitu Social Currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value, dan Stories.
Lantas, bagaimana cara membuat konten yang lebih mudah dibagikan tanpa sekadar berharap konten menjadi viral? Artikel ini membahas cara kerja viral marketing, faktor yang mendorong orang membagikan konten, contoh kampanye yang bisa dipelajari, hingga strategi membuat konten yang lebih realistis untuk brand maupun UMKM.
Also Read
Ringkasan Cepat
- Viral marketing adalah strategi yang memanfaatkan audiens untuk ikut menyebarkan konten (share, repost, UGC), sehingga jangkauan meluas cepat.
- Tidak ada formula yang menjamin viral, yang bisa dilakukan adalah memperbesar peluang lewat hook, emosi, kemudahan replikasi, dan distribusi (seeding) yang tepat.
- Model STEPPS (Social Currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value, Stories) membantu menjelaskan mengapa orang mau membagikan sesuatu.
Apa Itu Viral Marketing?
Viral marketing adalah strategi pemasaran yang memanfaatkan audiens untuk ikut menyebarkan konten. Jadi, konten tidak hanya didistribusikan oleh brand, tetapi juga dibagikan dari satu orang ke orang lainnya sehingga jangkauannya dapat berkembang dengan cepat.
Sederhananya, perbedaan viral marketing dengan marketing konvensional bisa dilihat dari cara konten menyebar:
- Marketing konvensional: brand menentukan kanal dan membayar distribusi, lalu audiens menerima pesan.
- Viral marketing: audiens ikut menjadi bagian dari distribusi dengan membagikan, mengomentari, atau membuat versi lain dari konten.
Namun, viral bukan berarti sekadar mendapatkan jutaan views. Konten yang viral sebaiknya tetap memiliki tujuan yang jelas, misalnya meningkatkan brand awareness, mendatangkan leads, atau menghasilkan penjualan.
Cara Kerja Viral Marketing di Social Media
Di media sosial, sebuah konten biasanya mulai menyebar ketika berhasil memicu respons dari audiens. Respons tersebut bisa berupa komentar, like, share, save, remix, atau bahkan dibuat ulang oleh pengguna lain.
Ketika semakin banyak orang berinteraksi dan membagikan konten, konten tersebut berpeluang menjangkau jaringan audiens yang lebih luas.
Secara sederhana, alurnya seperti ini:
- Brand menentukan pesan yang ingin disampaikan.
- Konten dibuat dengan alasan yang membuat orang tertarik untuk melihat atau membagikannya.
- Konten didistribusikan kepada audiens awal.
- Audiens memberikan respons, seperti komentar, share, dan interaksi lainnya.
- Konten menjangkau audiens baru melalui jaringan orang yang membagikannya.
- User Generated Content (UGC) dapat memperpanjang umur kampanye.
- Brand mengarahkan perhatian tersebut ke tujuan bisnis, misalnya website, produk, atau CTA.
Karena itu, jangan berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana caranya supaya konten saya viral?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Setelah konten viral, apa yang ingin saya dapatkan?”
Sebab, jutaan views tidak akan banyak berarti jika tidak ada dampak yang relevan untuk bisnis.
Viral Marketing vs Marketing Konvensional
Viral marketing dan marketing konvensional sama-sama bertujuan menjangkau audiens, tetapi cara distribusinya berbeda.
| Viral Marketing | Marketing Konvensional |
|---|---|
| Mengandalkan share dan word of mouth | Mengandalkan distribusi yang dikontrol brand |
| Bisa berkembang dengan cepat | Pertumbuhannya cenderung lebih terukur |
| Sulit diprediksi | Lebih mudah direncanakan berdasarkan budget |
| Audiens ikut menjadi distributor | Brand membayar atau mengelola kanal distribusi |
| Bisa menghasilkan jangkauan organik besar | Biasanya membutuhkan biaya distribusi yang konsisten |
Jadi, viral marketing bukan berarti menggantikan semua bentuk pemasaran konvensional. Keduanya justru bisa digunakan bersama.
Kenapa Orang Mau Membagikan Konten?
Salah satu cara memahami perilaku orang dalam membagikan konten adalah menggunakan kerangka STEPPS dari Jonah Berger.
Berger menjelaskan enam prinsip yang dapat mendorong orang untuk membicarakan dan membagikan sesuatu, yaitu Social Currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value, dan Stories.
1. Social Currency
Orang cenderung membagikan sesuatu yang membuat mereka terlihat menarik, pintar, update, atau memiliki selera tertentu.
Contohnya:
- Tips yang jarang diketahui orang;
- Informasi terbaru;
- Konten yang terasa eksklusif;
- Fakta unik yang membuat orang ingin terlihat “tahu duluan”.
2. Triggers
Triggers adalah pemicu yang membuat seseorang teringat pada sebuah konten atau brand dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sebuah konten dikaitkan dengan situasi yang sering dialami audiens. Ketika situasi tersebut terjadi lagi, orang bisa kembali mengingat konten tersebut.
3. Emotion
Konten yang membangkitkan emosi tertentu cenderung lebih mudah mendapatkan respons.
Tidak harus selalu lucu. Konten juga bisa memicu:
- Rasa kagum;
- Terharu;
- Penasaran;
- Terkejut;
- Senang;
- atau bahkan marah.
Menurut Berger, emosi dengan tingkat aktivasi yang tinggi dapat mendorong orang untuk lebih ingin membagikan sesuatu.
4. Public
Sesuatu yang mudah dilihat dan ditiru orang lain memiliki peluang lebih besar untuk menyebar.
Contohnya adalah challenge atau format konten yang memungkinkan audiens membuat versi mereka sendiri.
Ketika semakin banyak orang melakukannya, orang lain juga semakin mudah mengetahui dan ikut berpartisipasi.
5. Practical Value
Orang juga membagikan konten karena merasa konten tersebut berguna bagi orang lain.
Contohnya:
- Tutorial singkat;
- Tips yang bisa langsung dipraktikkan;
- Checklist;
- Rekomendasi;
- Informasi yang membantu menyelesaikan masalah.
Konten seperti ini tidak harus lucu atau kontroversial. Selama bermanfaat, orang punya alasan untuk menyimpannya dan membagikannya.
6. Stories
Manusia lebih mudah mengingat informasi ketika informasi tersebut dikemas dalam sebuah cerita.
Karena itu, daripada hanya mengatakan:
“Produk kami berkualitas.”
Brand bisa membuat cerita yang menunjukkan bagaimana produk tersebut membantu menyelesaikan masalah pelanggan.
Cerita yang menarik juga lebih mudah diceritakan kembali oleh audiens.
Jadi, sebelum membuat konten, coba tanyakan:
“Apa alasan orang mau membagikan konten ini kepada temannya?”
Jika jawabannya belum jelas, mungkin idenya masih perlu diperkuat.
Cara Membuat Viral Marketing yang Lebih Realistis
Tidak ada formula yang bisa menjamin sebuah konten pasti viral. Namun, Anda bisa meningkatkan peluangnya dengan membuat konten yang memang dirancang untuk mendapatkan respons dan dibagikan.
1. Tentukan Tujuan Selain Views
Views memang penting, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya tujuan.
Tentukan hasil yang ingin dicapai, misalnya:
- Mendapatkan leads;
- Meningkatkan brand awareness;
- Mendapatkan followers yang relevan;
- Mengarahkan traffic ke website;
- Meningkatkan penjualan;
- Mendapatkan pendaftaran WhatsApp atau newsletter.
Dengan begitu, Anda tidak hanya mengejar angka views, tetapi juga dampak bisnisnya.
2. Kenali Audiens yang Ingin Dibuat Bereaksi
Konten yang terlalu umum biasanya sulit terasa relevan.
Cobalah mulai dari masalah yang benar-benar dialami audiens.
Misalnya, daripada membuat konten:
“5 Tips Mengelola Bisnis”
Anda bisa membuatnya lebih spesifik:
“5 Kesalahan yang Sering Dilakukan UMKM Saat Baru Mulai Jualan Online”
Semakin dekat dengan pengalaman audiens, semakin besar peluang mereka merasa, “Ini gue banget.”
3. Tentukan Alasan Orang Harus Membagikannya
Sebelum membuat konten, coba jawab satu pertanyaan sederhana:
“Kenapa orang mau mengirim konten ini ke temannya?”
Beberapa alasan yang bisa digunakan:
- Karena lucu;
- Karena relatable;
- Karena bermanfaat;
- Karena membuat penasaran;
- Karena menginspirasi;
- Karena mewakili perasaan mereka;
- Karena ingin menunjukkan sesuatu kepada orang lain.
4. Buat Hook yang Menarik
Di media sosial, audiens bisa langsung scroll jika beberapa detik pertama tidak menarik. Karena itu, mulai dengan sesuatu yang membuat orang ingin mengetahui kelanjutannya.
Contohnya:
- pertanyaan yang familiar;
- pernyataan yang mengejutkan;
- masalah yang sering dialami;
- fakta yang membuat penasaran;
- hasil akhir yang ingin diketahui audiens.
Misalnya:
“Kenapa konten Anda sudah dibuat bagus tapi tetap sepi?”
Hook seperti ini langsung mengarah pada masalah yang ingin diketahui jawabannya.
5. Pastikan Brand Tetap Terhubung dengan Cerita
Salah satu risiko konten viral adalah kontennya diingat, tetapi brand-nya dilupakan.
Bayangkan sebuah video mendapatkan jutaan views, tetapi setelah melihatnya orang tidak tahu siapa yang membuatnya atau apa hubungannya dengan produk.
Karena itu, brand perlu tetap terhubung dengan cerita tanpa membuat konten terasa seperti iklan yang terlalu memaksa.
Berger juga menjelaskan bahwa semakin sebuah konten terasa seperti iklan, orang bisa menjadi semakin enggan membicarakan atau membagikannya.
6. Buat Konten yang Mudah Direplikasi
Konten akan lebih mudah berkembang jika audiens bisa ikut berpartisipasi.
Beberapa format yang bisa digunakan:
- Challenge;
- Template;
- Pertanyaan;
- Duet atau remix;
- Before-after;
- Format “POV”;
- Konten yang meminta audiens membuat versi sendiri.
Semakin sederhana cara ikut berpartisipasi, semakin rendah hambatan bagi audiens.
7. Lakukan Seeding
Jangan hanya mengunggah konten lalu menunggu algoritma bekerja.
Anda juga bisa melakukan seeding, yaitu memperkenalkan konten kepada komunitas atau audiens yang memang relevan.
Contohnya:
- Membagikan konten ke komunitas niche;
- Melakukan kolaborasi dengan micro creator;
- Mengajak audiens awal memberikan respons secara natural;
- Membagikan konten melalui kanal brand lainnya.
Tujuannya bukan memaksakan engagement, tetapi memastikan konten pertama kali dilihat oleh orang yang memang berpotensi tertarik.
8. Ulangi Pola yang Berhasil
Viral marketing sebaiknya diperlakukan sebagai eksperimen. Jika satu format ternyata berhasil, jangan langsung meninggalkannya.
Coba buat beberapa variasi:
- Ubah hook;
- Ubah opening;
- Gunakan angle berbeda;
- Gunakan contoh berbeda;
- Buat versi yang lebih pendek;
- Buat versi dengan format berbeda.
Pro tip: kalau satu pola terbukti bekerja, coba buat 3–5 variasi sebelum berpindah ke konsep baru.
Contoh Viral Marketing yang Bisa Dipelajari
Beberapa kampanye populer menunjukkan bahwa viral marketing dapat bekerja dengan mekanisme yang berbeda-beda.
ALS Ice Bucket Challenge
ALS Ice Bucket Challenge menjadi contoh bagaimana challenge yang sederhana dan mudah dilakukan dapat mendorong partisipasi banyak orang.
Peserta membuat video, melakukan tantangan, lalu mengajak orang lain untuk ikut. Pola seperti ini menunjukkan bagaimana unsur Public dalam STEPPS dapat membantu membuat sebuah aktivitas lebih mudah dilihat dan ditiru.
Dove Real Beauty Sketches
Dove menggunakan cerita dan eksperimen yang membangkitkan emosi untuk menyampaikan pesan tentang persepsi perempuan terhadap dirinya sendiri.
Hal yang bisa dipelajari:
- gunakan cerita yang kuat;
- bangun hubungan emosional;
- hubungkan cerita dengan nilai brand;
- jangan membuat produk menjadi satu-satunya fokus.
Dumb Ways to Die
Kampanye Dumb Ways to Die juga menjadi contoh bagaimana pesan serius dapat dikemas melalui karakter, musik, dan format yang menghibur sehingga lebih mudah diterima dan dibagikan.
Dari berbagai contoh tersebut, hal terpenting bukan meniru bentuk kampanyenya, tetapi memahami kenapa orang mau ikut melihat, membagikan, atau membuat ulang konten tersebut.
Metrik yang Lebih Sehat daripada Sekadar “Viral”
Jangan hanya melihat jumlah views. Konten dengan 1 juta views belum tentu lebih bernilai daripada konten dengan 100 ribu views jika konten kedua menghasilkan lebih banyak pelanggan.
Beberapa metrik yang bisa diperhatikan:
- Share rate: seberapa sering konten dibagikan.
- Save rate: seberapa sering konten disimpan.
- Watch time: berapa lama audiens menonton.
- Completion rate: berapa banyak orang yang menonton sampai selesai.
- Profile visit: berapa banyak orang yang mengunjungi profil.
- CTA click: berapa banyak orang yang melakukan tindakan.
- Follower growth: apakah followers baru sesuai dengan target audiens.
- Conversion: apakah traffic akhirnya menghasilkan leads atau transaksi.
Dengan cara ini, Anda bisa melihat apakah konten benar-benar membantu bisnis atau hanya menghasilkan angka besar di dashboard.
Checklist Viral Marketing untuk UMKM
Agar tidak berhenti pada ide, Anda bisa membuat sistem sederhana yang dijalankan setiap minggu.
Sebelum Produksi
- Tentukan satu pesan utama.
- Tentukan target audiens.
- Buat minimal 3 alternatif hook.
- Tentukan alasan orang mau membagikan konten.
- Pastikan produk atau brand tetap relevan dengan cerita.
Saat Produksi
- Buat beberapa variasi konten.
- Gunakan format yang mudah dipahami.
- Buat opening yang langsung ke masalah.
- Hindari terlalu banyak pesan dalam satu konten.
- Tambahkan CTA yang jelas.
Setelah Publish
- Lakukan seeding ke komunitas yang relevan.
- Pantau share dan watch time.
- Perhatikan komentar audiens.
- Evaluasi performa dalam 24–48 jam.
- Buat variasi dari konten yang performanya bagus.
Jangan Lupakan Website Saat Konten Mulai Viral
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika sebuah konten tiba-tiba mendapatkan banyak perhatian, yaitu memastikan website bisnis siap menerima traffic tersebut. Bayangkan konten Anda viral dan banyak orang mulai mengunjungi website, tetapi halaman membutuhkan waktu lama untuk dibuka, katalog produk sulit ditemukan, landing page kurang jelas, atau checkout terlalu rumit. Traffic yang sudah susah payah didapatkan akhirnya bisa terbuang begitu saja.
Karena itu, website sebaiknya dipersiapkan sebagai “rumah” untuk menampung traffic dari media sosial. Jika Anda membutuhkan hosting untuk website bisnis, Hosting Murah Rumahweb menawarkan paket mulai Rp15.000/bulan dengan uptime 99,9%, SSL gratis, bantuan migrasi, serta berbagai fitur seperti Imunify360 Security, akses SSH, Python & Node.js, Redis Object Cache, dan weekly offshore backup sesuai paket.
FAQ
Tidak. Viral bisa meningkatkan reach dan awareness, tetapi penjualan tetap dipengaruhi relevansi audiens, produk, penawaran, dan follow-up CTA.
Tidak ada durasi pasti. Tergantung respons audiens, momentum, dan distribusi.
Pilih platform berdasarkan lokasi dan kebiasaan audiens, bukan sekadar yang sedang populer.
Mengejar views tanpa tujuan bisnis dan tanpa rencana follow-up.
Gunakan strategi yang bisa diulang: hook kuat, alasan share jelas, format mudah direplikasi, seeding, dan iterasi variasi.
Kesimpulan
Viral Marketing adalah pendekatan yang menggabungkan strategi distribusi dengan pemahaman terhadap perilaku audiens agar konten lebih mudah dibicarakan dan dibagikan. Meski tidak ada cara yang dapat menjamin sebuah konten menjadi viral, peluangnya dapat ditingkatkan dengan menetapkan tujuan yang jelas, membuat hook yang menarik, memberikan alasan bagi audiens untuk membagikan konten, serta mengevaluasi pola yang berhasil.
Selain strategi konten, kesiapan bisnis juga perlu diperhatikan ketika sebuah konten mulai mendapatkan perhatian besar. Lonjakan traffic dapat terjadi dalam waktu singkat, sehingga website dan infrastruktur yang digunakan perlu mampu menangani peningkatan akses.
Dengan persiapan yang tepat, momentum dari konten viral tidak hanya menghasilkan banyak views, tetapi juga dapat diarahkan menjadi traffic, interaksi, atau konversi yang memberikan dampak nyata bagi bisnis.







